11/05/2026
Lantai masih kopong meski nat keramik sudah terlihat penuh? Simak artikel ini untuk mengetahui penyebabnya!
Mengapa Keramik Bisa Kopong setelah Dipasang?
- Permukaan Dasar Belum Siap atau Kurang Rata
- Aplikasi Perekat Tidak Merata dan Tidak Menutup Area secara Optimal
- Pemilihan Material Perekat Tidak Sesuai Kebutuhan Area
Faktor Pemasangan yang Perlu Diperhatikan
- Teknik Aplikasi Perekat pada Lantai
- Ketebalan Material dan Proses Penekanan Keramik
- Kondisi Substrat dan Kebersihan Permukaan sebelum Pemasangan
Dari luar, lantai bisa saja terlihat baik-baik saja. Bila nat keramik telah terisi penuh, permukaan akan tampak lebih rapi lagi. Namun saat diketok, keramik masih terdengar kopong. Hal inilah yang sering dialami di kehidupan sehari-hari.
Pemasangan keramik bukan hanya tentang estetika dan kerapihan saja, namun juga daya lekat demi mendukung kekuatan dan kenyamanannya. Jika daya lekatnya terganggu, maka lantai akan kopong. Berbagai penyebab dan cara mengatasinya dapat dilihat dalam ulasan berikut.
Mengapa Keramik Bisa Kopong setelah Dipasang?
Banyak orang hanya memperhatikan bagian permukaan lantai saja saat dan setelah proses pemasangan, seperti nat keramik, simetri, kotoran yang menempel, dan lain sebagainya. Padahal, bagian dalam keramik itu sendiri juga harus diperhatikan.
Jika tidak diperhatikan, keramik bisa kopong karena berbagai penyebab berikut:
Permukaan Dasar Belum Siap atau Kurang Rata
Permukaan dasar lantai sebelum dipasangi keramik kerap berupa semen yang bergelombang. Gelombang ini membuat permukaannya tidak memiliki ketinggian yang sama rata. Alhasil, ketebalan perekat keramik pun jadi tidak sama.
Di area dengan ketinggian lebih rendah atau cekung, perekat cenderung tidak mampu mengisi ruang secara maksimal. Akibatnya, rongga udara akan tercipta antara keramik dengan permukaan semen.
Rongga ini menimbulkan bunyi kopong saat lantai diketuk. Bahkan, rongga tersebut bisa membuat lantai pecah saat diinjak karena tidak adanya fondasi yang kuat untuk menahan beban.
Aplikasi Perekat Tidak Merata dan Tidak Menutup Area secara Optimal
Banyak tukang yang mengoleskan perekat keramik hanya di bagian tertentu saja dengan cara totol. Bahkan, ada juga yang hanya mengoleskan pada bagian tengah. Dampaknya, tidak semua bagian terkena perekat secara merata.
Bila ditempelkan, udara akan terperangkap pada ruang yang kosong ini sehingga menimbulkan bunyi kopong saat diketok. Selain itu, lantai juga tidak bisa menempel dengan sempurna sehingga berisiko mengalami kerusakan.
Pemilihan Material Perekat Tidak Sesuai Kebutuhan Area
Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa semua perekat lantai sama saja. Padahal, ada perekat yang telah didesain khusus agar bisa menghadapi karakter tertentu. Misalnya granit yang permukaannya lebih halus daripada keramik biasa.
Di sisi lain, tukang juga masih sering menggunakan campuran semen biasa dengan pasir ayak untuk merekatkan lantai. Meskipun terlihat simple, namun campuran ini bisa menyusut dengan mudah saat kering. Daya rekatnya pun juga rendah.
Efek ini akan semakin terasa saat digunakan untuk menempelkan lantai di area basah atau luar ruangan. Keramik berukuran besar juga akan mudah terlepas jika direkatkan dengan campuran ini.
Baca Juga
Faktor Pemasangan yang Perlu Diperhatikan
Proses pemasangan yang salah akan mempengaruhi kondisi lantai dan nat keramik. Bahkan, hal ini bisa membuat keramik kopong dan kekuatannya menurun. Oleh sebab itu, berbagai faktor perlu diperhatikan, seperti:
Teknik Aplikasi Perekat pada Lantai
Selama ini, banyak tukang yang menggunakan sendok semen biasa saat mengaplikasikan perekat pada keramik. Namun, hal ini membuat ketebalan perekat menjadi tidak rata sehingga berisiko membuat lantai terdengar kopong.
Maka dari itu, sebaiknya roskam bergerigi digunakan dalam proses ni. Alat tersebut akan memastikan ketebalan dan volume perekat akan seragam di semua area saat dioleskan.
Selain itu, roskam bergerigi juga bisa menghasilkan banyak guratan. Guratan-guratan ini akan menjadi jalan keluar bagi udara ketika lantai ditekan. Alhasil, tidak ada lagi udara yang terjebak di bawahnya.
Ketebalan Material dan Proses Penekanan Keramik
Perekat tidak boleh dioleskan secara asal-asalan pada bagian bawah keramik. Umumnya, ketebalannya harus berada di angka 3 sampai 6 milimeter. Hal ini bisa disesuaikan berdasarkan ukuran keramik. Harapannya, keramik dapat menempel kuat.
Lalu, tekan keramik secara perlahan. Keramik juga bisa diketuk dengan palu karet yang gerakannya memutar dari tengah ke luar. Dengan demikian, guratan semen dapat menyebar rata dan mendorong sisa udara keluar.
Kondisi Substrat dan Kebersihan Permukaan sebelum Pemasangan
Pastikan kondisi permukaan keramik dalam keadaan bersih, keras, kering, serta bebas dari semua kotoran, termasuk tumpahan cat dan sisa adukan semen.
Jika tidak bersih, perekat keramik akan menempel ke kotoran, bukan permukaan semen. Alhasil, perekat akan mudah lepas dan membuat keramik terdengar kopong bila diketuk. Maka dari itu, bersihkan dulu sebelum pemasangan.
Cara Mengurangi Risiko Keramik Kopong
Selain teknik pemasangan yang tepat, sejumlah cara juga bisa digunakan untuk mengurangi risiko keramik kopong. Cara-cara ini juga dapat membuat performa nat keramik bisa semakin maksimal. Berikut di antaranya:
Menggunakan Sistem Perekat yang Sesuai
Seperti yang telah disebutkan di atas, semen biasa sering digunakan untuk menempelkan keramik sehingga membuatnya kopong. Untuk mencegahnya, gunakan perekat yang memang didesain khusus untuk keramik.
Pilih perekat sesuai jenis dan ukuran keramik yang ingin digunakan. Selain itu, pertimbangkan juga area pemasangan. Area berbeda kerap membutuhkan perekat dengan formula yang berbeda pula.
Memastikan Coverage dan Kontak Perekat Lebih Optimal
Gunakan double-buttering untuk mengoleskan perekat ke keramik. Cara ini membutuhkan roskam bergerigi untuk mengoleskan perekat ke atas permukaan beton dan belakang kepingan ubin.
Dengan metode ini, kontak antara lantai dengan permukaan beton akan semakin optimal. Risiko terjadinya ruang udara pun akan semakin kecil.
Mengutamakan Metode Pemasangan yang Rapi dan Konsisten
Pemasangan keramik tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan terburu-buru. Tukang harus melakukannya dengan teliti, hati-hati, serta konsisten untuk memastikan pemasangan berjalan dengan sempurna.
Tile levelling system atau waterpass bisa dipakai untuk mempermudah pengerjaan. Selain itu, pastikan nat keramik diisi setelah perekat mengering agar tidak merembes ke bawahnya.
Jenis Keramik dan Produknya
Setiap keramik memiliki karakternya masing-masing. Maka dari itu, sesuaikan produk dengan jenisnya, seperti:
Keramik Standar
Jika ingin memasang keramik standar, Anda bisa memilih SikaCeram®-150 CA TileFix. Perekat ini cocok untuk pemasangan keramik di lantai kering atau dinding. Daya ikatnya kuat dan bisa digunakan hanya dengan menambah air.
Granit
SikaCeram®-180 GA TileFix cocok untuk pemasangan keramik maupun granit di dinding, lantai, area dalam serta luar ruangan yang kering maupun basah namun tidak terendam. Daya ikatnya juga kuat dan hanya perlu menambah air dalam pengaplikasiannya.
Big Slab
Sesuai namanya, SikaCeram®-255 Big Slab cocok untuk granit berukuran besar di dalam maupun luar ruangan, serta dinding dan lantai.
Bahkan, perekat ini bisa digunakan untuk area basah yang terendam. Daya lekatnya sangat baik dan bisa diaplikasikan dengan cara tile on tile.
Mengapa Harus Sika?
Pemasangan keramik yang ideal memadukan berbagai faktor, mulai dari teknik hingga pemilihan produk. Dengan demikian, risiko keramik kopong bisa diminimalisir.
Sika menawarkan produk berkualitas unggulan. Hal ini ditandai dengan pengalamannya selama 115 tahun dalam menangani aneka proyek, seperti Renovasi Lantai Keramik di PLTA di Swiss. Di sisi lain, Sika juga pencetus semen waterproofing pertama di Indonesia.
Tidak hanya nat keramik, produk Sika juga mampu mendukung lantai agar bisa terpasang dengan ideal sesuai kebutuhan. Hubungi Sika sekarang untuk konsultasi kebutuhan konstruksi Anda!
Artikel dikurasi oleh:
Ardan Adhyaksana - Building Finishing Specialist