10/02/2026
Industrial Flooring Flooring

Ingin hasil beton menjadi optimal? Hindari berbagai masalah pada curing dalam artikel ini dengan cat lantai khusus!


Curing adalah salah satu proses penting dalam pembuatan beton. Sayangnya, baik saat pembuatan maupun setelah curing selesai, kerap terjadi masalah yang perlu Anda hadapi. Salah satu cara mengatasinya yakni dengan menggunakan cat lantai khusus.

Lantas, apa saja masalah tersebut dan bagaimana cara menghindarinya menggunakan cat lantai? Simak penjelasannya di bawah ini!
 

Permasalahan dan akibat yang perlu dihindari pada saat proses curing beton

Curing merupakan proses perawatan setelah beton dicor. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan kekuatan, durabilitas, maupun daya tahan struktur dalam jangka panjang. Itulah mengapa proses ini penting untuk dilakukan secara seksama.

Sayangnya, berbagai masalah sering terjadi selama maupun setelah proses ini berjalan. Masalah-masalah inilah yang membuat kualitas beton menurun. Berikut beberapa di antaranya:

Plastic Shrinkage 

Beton segar yang masih bersifat plastis bisa mengalami penyusutan volume dengan nilai yang cukup signifikan. Masalah ini biasa disebut sebagai plastic shrinkage dan menimbulkan keretakan dangkal, sejajar, maupun acak.

Fenomena tersebut terjadi akibat air permukaan menguap terlalu cepat. Hal ini disebabkan oleh proses curing yang tidak diperhatikan dengan baik, terutama saat cuaca panas maupun berangin.

Bila plastic shrinkage terjadi pada beton Anda dan dibiarkan begitu saja, daya tahannya akan berkurang meskipun umumnya bersifat non-struktural. Selain itu, estetika tentu juga akan menurun.

Thermal Cracking 

Thermal cracking atau retak termal terjadi karena perbedaan suhu yang cukup jauh antara permukaan dan bagian dalam. Fenomena ini juga bisa terjadi akibat fluktuasi suhu lingkungan.

Masalah ini membuat beton mengalami keretakan, sehingga kekuatannya menurun. Bahkan, integritas struktur secara keseluruhan juga akan terkena dampaknya.

Retak termal bisa terjadi akibat curing yang tidak optimal, sehingga beton kehilangan kelembapan terlalu cepat dan suhu permukaan menjadi tak terkendali. Alhasil, perbedaan suhu yang drastis antara permukaan dengan dalam pun terjadi.

Kadar Kelembapan yang Terlalu Tinggi 

Salah satu tujuan curing adalah menjaga kelembapan pada permukaan beton dalam periode waktu tertentu. Bila hal ini tidak bisa dijaga bahkan terjadi kekurangan, berbagai masalah pada masa mendatang akan muncul.

Salah satu masalah tersebut adalah turunnya kekuatan beton. Akibatnya, struktur menjadi lemah dan rapuh sehingga tidak mampu menahan beban maupun faktor lingkungan lainnya.

Selain itu, umur beton akan jadi lebih singkat, sehingga Anda perlu memperbaikinya secara berulang bahkan renovasi besar-besaran. Itulah mengapa Anda perlu menghindari masalah ini dengan mengaplikasikan cat lantai khusus.

Man applying waterproof coating to concrete floor at Limmat building in Zurich

 

Blister

Blistering merupakan istilah yang merujuk pada cacat permukaan berupa lepuhan berongga maupun gelembung. Diameter gelembung tersebut cukup bervariasi, mulai dari 2,5 sampai 7,5 cm.

Masalah ini terjadi akibat suhu ekstrem atau proses curing yang tidak sempurna, sehingga menyebabkan adanya udara atau air yang terjebak di bawah permukaan. Terlebih, waktu pengeringan atau pengecatan dilakukan terlalu cepat. Jika blistering terjadi, permukaan beton akan mengalami kerusakan atau pengelupasan. Ketahanan terhadap abrasi pun menurun sehingga permukaan mudah aus dan tidak rata.

Waktu Curing Beton yang Terlalu Singkat

Proses curing beton perlu dilakukan pada periode waktu tertentu. Sesuai standar yang berlaku di Indonesia, beton perlu melalui proses curing minimal selama 7 hari kecuali ada kondisi tertentu.

Bila durasi tersebut berkurang, kekuatan beton akan ikut menurun hingga 50%. Artinya, struktur tidak bisa menopang beban sebagaimana mestinya. Selain itu, struktur juga akan cepat rusak dalam waktu dekat.

Berbagai masalah juga bisa muncul akibat kurangnya durasi. Misalnya keretakan pada permukaan, pengeroposan hingga timbulnya debu pada beton, sampai munculnya banyak pori. Hal-hal ini juga akan menurunkan kekuatan beton.

Munculnya Noda Garam (Efloresensi)

Noda garam pada beton sering dikenal sebagai efloresensi. Noda tersebut berbentuk bercak keputihan berupa bubuk atau kerak di permukaan beton. Lantas, mengapa hal ini terjadi?

Jadi, bagian dalam atau bawah struktur bisa mengandung garam mineral laut. Namun saat air menguap, garam tersebut akan tertinggal. Hal ini sering terjadi karena proses curing yang tidak optimal.

Meski sering dianggap masalah estetika, ternyata fenomena ini bisa menjadi tanda kelemahan beton dalam jangka panjang. Namun, hal ini dapat diatasi dengan mengaplikasikan cat lantai khusus.

Korosi Tulangan Beton

Beton perlu diberi tulangan baja untuk memaksimalkan kekuatannya. Selain itu, struktur tersebut juga dapat mencegah keretakan, meningkatkan kelenturan, dan mengoptimalkan stabilitas.

Namun, tulangan tersebut bisa mengeropos dan membuat kekuatannya menurun. Hal ini disebabkan oleh hilangnya lapisan pelindung beton, sehingga gas maupun zat-zat berbahaya lainnya meresap dan membuatnya berkarat.

Salah satu penyebab masalah ini adalah proses curing yang tidak optimal.
Kurangnya proses tersebut dapat menurunkan kualitas beton, sehingga berbagai zat akan masuk melalui pori dengan lebih mudah.

Permukaan Mudah Mengelupas

Berbagai masalah pada beton bisa membuat permukaannya mudah mengelupas. Pengelupasan ini biasa disebut sebagai spaling atau dusting.

Penyebab utama dusting adalah hidrasi yang tidak sempurna. Bila curing tidak dilakukan secara optimal dan dalam waktu yang dekat, maka proses hidrasi pun akan terganggu. Akibatnya, material dalam beton tidak terikat secara sempurna hingga menimbulkan pengelupasan.

Honeycombing

Honeycombing merupakan istilah kecacatan struktural pada beton. Bentuknya bisa berupa lubang, celah, atau rongga yang menyerupai sarang lebah. Kecacatan tersebut dapat terjadi pada permukaan maupun bagian dalam.

Ada berbagai penyebab masalah ini terjadi, salah satunya yakni curing yang tidak maksimal karena dapat menyebabkan hilangnya air untuk proses hidrasi. Alhasil, campuran tidak terikat dengan sempurna dan menimbulkan rongga kecil.

Selain itu, kurangnya proses curing membuat penyusutan berlebih hingga pasta semen melemah. Hasilnya, honeycombing pada beton akan muncul. Bila dibiarkan, maka kekuatan beton akan menurun.
 

Maksimalkan Curing Beton dengan Cat Lantai Khusus Berkualitas

Berbagai masalah di atas dapat mempengaruhi kualitas beton Anda, sehingga Anda perlu mencegahnya. Untuk itu, maksimalkan proses curing dengan pelapis berkualitas, seperti Sikafloor® ProSeal-22.

Pelapis ini mempunyai retensi kelembapan, adhesi, dan ketahanan terhadap abrasi yang baik. Aplikasinya pun cukup mudah dan bisa dilakukan secara efektif serta ekonomis. Selain itu, potensi permukaan berdebu dapat dikontrol, membuat proses pengeringan menjadi lebih cepat.

Sika sendiri sudah berpengalaman selama 115 tahun dalam menangani aneka proyek global. Misalnya dalam Pembangunan Bendungan Tona di Kolombia. Sika juga merupakan pencetus semen waterproofing pertama di Indonesia yang cocok untuk aneka kebutuhan proyek.

Bersama cat lantai khusus dari Sika, Anda bisa memaksimalkan proses curing untuk mendapatkan beton berkualitas dan tahan lama. Selain itu, Sika juga menyediakan konsultasi untuk membantu Anda dalam memilih produk Sika yang sesuai dengan kebutuhan!